Bulan puasa dan juga lebaran selalu dibumbui oleh aktifitas2 khas yang jarang terjadi di bulan2 lain ataupun waktu2 lainnya, mulai dari sahur, buka puasa, begadang, lemes disiang hari bolong, ngeracunin temen supaya buka…uuppss…hehehe, itu sih bukan aktifitas ya, dasar jahil aja…hehehe. Yang paling ketara adalah kegiatan mengunjungi makam keluarga, yang oleh orang Jawa istilahnya Nyekar dan kalau orang Sunda istilahnya Nadran. Kegiatan ini dilakukan sebelum memasuki bulan puasa dan sewaktu lebaran, yang serentak bikin jalan2 besar disekitar pemakaman macet total..tal…tal…
Cuman kepikiran aja sih sebenarnya, kalau dilihat-lihat, sebuah makam itu minimal berukuran 1×3 meter kan, dan kalau sudah jadi pemakaman yang isinya beratus2 makam, kebayang dong berapa besar lahan yang dibutuhkan untuk makam2 tersebut. Dulu sempat mikir, kalau mengambil logika tempat parkir mobil yang juga butuh tempat parkir selebar mobil itu sendiri, maka since sekarang sudah ada tempat parkir mobil bertingkat, bisa gak ya makam diperlukan seperti itu juga? Kalau bisa, wueleeeh….bakalan ngirit tempat buanyaaak banget. Bayangannya ada sebuah gedung yang fungsi ruangan2nya adalah makam….keren gak tuh….hehehe. Cuman kalau dipikirin lebih dalam lagi, artinya disetiap ruang makam tersebut mesti ada tanah yang dalemnya sekitar 1,5 meter atau lebih. Belum proses hancurnya jenazah oleh tanah, duuh….ternyata gak sesimpel itu ya, malah rasanya justru nambah keruwetan.
Ngomongin ngirit tempat, ada satu cara lagi, yaitu kremasi, atau dibakar sampai jadi abu. Cara ini dilakukan di India dan juga China. Di Bali juga dilakukan upacara pembakaran jenazah yang disebut Ngaben. Cara ini adalah cara favorit saya, walaupun di agama saya gak dikenal cara kremasi ini. Bayangin, kalau semua jenazah dikremasi, lalu abunya dimasukkan kedalam guci. Yang ada pengelola pemakaman akan banyak yang bangkrut dan memulai bisnis penyimpanan guci abu jenazah. Kalaupun mau, bisa saja disimpan sendiri guci nya dirumah, lalu setiap saat bisa dilakukan nyekar atau nandran tanpa mesti kenal waktu. Nah dijamin gak akan muncul kemacetan2 yang bikin kita semua susah…:-)
seru juga baca beberapa tulisanmu, khususnya tentang makam ini. Mungkin agak telat baca ya, maklum saya baru tahu website ini.
Entah mengapa, saya senang bila pergi ke makam, dimana berjejer batu nisan, gundukan tanah, hijau rumput dan wangi bunga. bukan mengingatkan akan kematian, namun mengingatkan betapa hidup penuh ironi meskipun ia telah mati. Unik sekali melihat ironi kehidupan pada sebuah nisan.sebut saja nisan yang sudah rapuh, tak ada bunga, ukiran namapun sudah pudar, betapa kesepiannya si makam ini ketika makam-makam yang lain diziarahi kerabat saat lebaran tiba. atau sebuah nisan yang megah, rapih, indah, terawat oleh penjaga makam, namun tak pernah diziarahi oleh kerabat, sama-sama kesepiannya meskipun berbeda kondisi.
Namun bila mayat-mayat ini harus dikremasi untuk menghindari kemacetan (seperti yang bangwin katakan), mungkin sumber minyak bumi, kesuburan tanah tak akan ada lagi. Lalu siapa yang akan mulai merasa “kesepian” sekarang?
That’s one good point, Des. Thanks