Author Archive for bangwin

Yahoo Begins the Rollout of Its New User Profile today

I guess Yahoo! just start their engine on Social Networking world with their Yahoo! Profiles. Not much at the moment except it allow you to make some connections to other Yahoo!’s account owner. Well quite good for a starter though….:-) Check out an article about this on TechCrunch.

The Rise of Silicon Valley (Documentary)

Part 1/2


Watch The Rise of Silicon Valley (Part 1) in Game Videos |  View More Free Videos Online at Veoh.com

Part 2/2


Watch The Rise of Silicon Valley (Part 2) in Game Videos |  View More Free Videos Online at Veoh.com

ProgPoetry

Apa jadinya jika sekelompok penulis puisi (saya menghindari penyebutan “penyair” karena kok rasanya berat dan jauh diatas banget, hehehe) bersama-sama menginterpretasikan lagu-lagu dalam genre tertentu ke bentuk puisi? hasilnya menurut saya adalah sebuah karya yang dahsyat (aneh atau nyeleneh). Coba berkunjung ke ProgPoetry di mana sejumlah penulis puisi yang juga menggemari musik progresif berkumpul dan mengumpulkan karya-karya puisi mereka yang berbentuk interpretasi terhadap musik-musik progresif yang mereka dengarkan. Bukan itu saja, mereka pun mengundang penulis-penulis puisi lainnya untuk bergabung. Bagaimana menurut anda?

Jazz oh Jazz

Mendengarkan siaran Nuansa Jazz di Voice Of Jakarta buat saya adalah salah satu cara penyegaran dan pembuka wawasan untuk musik jazz. Apalagi akhir-akhir ini Alfred Ticoalu, host dari Nuansa Jazz ini membuat suatu seri Gitar Jazz…..wueeeh menarik banget.

Ingin merilis album seperti Radiohead & Nine Inch Nail?

Sangat menarik apa yang sudah dilakukan oleh Radiohead ataupun Nine Inch Nail, yaitu merilis album mereka via internet dan mendistribusikan juga. Dan yang mengagetkan, mereka sukses. Kita mengenal Naif yang juga menggunakan cara alternatif untuk mendistribusikan album terakhir mereka yang berjudul Let’s Go dengan cara membundle dengan majalah Rollingstones.

Kini jika anda ingin seperti Radiohead atau Nine Inch Nail, ada satu provider yang memungkinkan anda melakukan hal tersebut. Please welcome….Topspin.

Saya menemukan artikel menarik mengenai Topspin ini dan daripada saya menyalin ulang, lebih baik anda langsung membacanya disini, yg saya temukan di Wired Magazine’s blog.

Pak Bondan Winarno di Yahoo! Answers

Tidak banyak selebritis ataupun orang-orang yang terkenal di Indonesia ikut serta berbagi pengetahuan untuk masyarakat di media internet. Kali ini pak Bondan Winarno, salah seorang ahli kuliner yang levelnya menurut saya sudah mencapai tingkatan selebritis ikutan berkontribusi berbagi pengetahuannya di bidang kuliner dengan melontarkan pertanyaan sekaligus juga menjawab pertanyaan di Yahoo! Indonesia Answers.

FYI, Yahoo! Answers adalah salah satu situs social networking website yang berbasis aktifitas Tanya-Jawab yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan untuk segala bidang. Silahkan langsung berkunjung ke Yahoo! Indonesia Answers untuk melihat secara langsung bagaimana situs ini bekerja.

Pertumbuhan Pengguna Facebook diluar US di tahun 2008

Bila melihat perkembangan dari pengguna social-networking site di Indonesia, ada beberapa nama yang muncul ke permukaan antara lain, Friendster, Multiply, MySpace (biasanya untuk musisi atau pecinta musik), dan yang terakhir adalah Facebook.

Facebook, yang merupakan social-networking site termuda memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa, ini saya tidak bicara dalam tatanan keseluruhan lho ya, tapi di Indonesia pun walaupun secara jumlah pengguna masih dibawah pengguna Facebook di negara tetangga kita Malaysia, prosentase pertumbuhan jumlah pengguna Facebook di Indonesia menempati urutan no. 9 dari seluruh dunia, yaitu sebesar 115%. Sedangkan peringkat pertama untuk urusan growth ditempati oleh negara di Amerika Selatan, yaitu Chile yaitu sebesar 2197%.

Silahkan lihat data-data lebih lengkapnya ditabel-tabel dibawah ini yang saya ambil dari sini.

Top 25 Fastest Growing Countries on Facebook in 2008 (%)

Top 25 Fastest Growing Countries on Facebook in 2008 (absolute)

Top 25 Countries on Facebook as of 29 July 2008 (Outside US)

From the Gemblung’s Blog: The S.I.G.I.T Bersiap Merilis Materi Baru

Salah satu berita menarik adalah tentang band-band indie, nah The S.I.G.I.T ini adalah salah satu band indie asal Bandung yang menurut saya sangat berpotensi untuk maju ke kancah internasional. Setelah album Visible Idea of Perfection diluncurkan pada tahun 2006, maka belum terdengar lagi mereka akan merilis album baru, sampai saat saya mengunjungi blognya bung Jimi Gemblung dimana saya mendapatkan berita tentang The S.I.G.I.T yang sedang bersiap merilis materi baru. Bravo buat The S.I.G.I.T….

Silahkan simak berita selengkapnya di Jimi Gemblung’s Blog

Perhelatan Puisi dalam Diri

Tanpa disadari perhelatan saya dengan ekspresi tulisan yang dinamakan puisi makin intens. Dari yang tadinya hanya merupakan sarana pelepas pikiran, yang dalam istilah saya menyebutnya dengan “keran”….hehehe, mulai berubah menjadi semacam ekspresi yang dengan sendirinya muncul dikepala.

Saya ingat dijaman dulu saya pernah minta diajari menulis kepada rekan kerja saya dahulu yang sekarang kerja di majalah Tempo, Akmal Nasery Basral. Akmal sempat bertanya, “Masa sih elo gak bisa nulis Bang?”. Hehehe….sumpah menulis itu pekerjaan yang sangatlah sulit. Kepala sudah penuh dan siap ditumpahkan, begitu duduk didepan komputer dengan program word processing terbuka, langsung bingung. Begitu terus kejadiannya. Sampai akhirnya saya menyerah. Ini kejadiannya di medio 2001-an.

Cukup lama saya melupakan keinginan saya untuk menulis, sampai akhirnya disekitar pertengahan tahun 2006, saya diajak bergabung oleh Akmal ke sebuah milis yang bernama Apresiasi Sastra. Kebetulan Akmal menjadi salah seorang moderatornya. Dan tidak lama kemudian Akmal pun merilis novel pertamanya yang berjudul “Imperia”. Milis ini dipenuhi dengan penyair-penyair dan penulis-penulis sastra yang menurut saya kelasnya sudah eksis, dan ini membuat saya senang karena artinya makin banyak pula sumber-sumber pencipta sastra yang bisa saya jadikan patokan untuk belajar.

Pertemuan saya dengan milis pecinta puisi, Bunga Matahari (Buma) diawali dengan pertemuan saya di internet dengan Inez Dikara, seseorang teman lama yang kebetulan suaminya adalah kakak kelas saya di SMA 6, Jakarta. Inez ini lah yang mengajak saya ikutan milis Buma. Kredo yang dimunculkan di milis ini, yaitu “Semua bisa berpuisi” sangat membantu anggotanya untuk berekspresi tanpa takut-takut. Kesan bahwa puisi itu hanya bisa dihasilkan oleh seseorang yang sudah menyandang julukan penyair langsung pudar, karena ya ternyata memang tidak….hehehe. Dan mulailah saya memposting puisi-puisi saya yang pertama di kedua milis ini.

Penumpahan puisi itu terus berlangsung sampai akhirnya muncul kegamangan yang sempat saya tanyakan ke teman2 di milis sastra yang saya ikuti (Apsas & Buma). Muncul pertanyaan-pertanyaan yang  buat saya adalah dasar bagi kita untuk menulis dan mengklaim tulisan kita sebagai sebuah puisi, walaupun bila kita sudah mendapatkannya keharusan tersebut tidaklah menjadi esensial lagi, karena urusan selanjutnya adalah melepaskan ekspresi kita kedalam bentuk yang jauh lebih personal dan lebih menonjolkan personality kita sebagai identitas. “Sepertinya kau sudah menemukan ‘your alley’, Bang”, begitu kata Pakcik Ahmad, setelah beliau membaca dua puisiku yang saya buat dalam waktu berdekatan ( “Ufuk Yang Merunduk” & “Percakapan Antara Ayah & Anak” ). Pakcik Ahmad ini adalah salah seorang penyair yang puisi-puisinya banyak saya simak. Well, mungkin bagi orang luar bisa dengan mudah melihat ciri-ciri pada karya puisi seseorang ya, tapi saya tetap masih merasa gamang, sampai akhirnya saya memutuskan untuk menutup kegamangan tersebut dengan terus mendokumentasikan ekspresi-ekspresi yang muncul dikepala dalam bentuk puisi. Puisiku yang berjudul “Ufuk Yang Merunduk” pun banyak membuat teman-teman bertanya-tanya, ada apa dengan Bangwin? Mengapa puisi tersebut begitu gloomy? Apa yang terjadi dengannya? Banyak yang menganggap bahwa puisi itu adalah refleksi dari dalam jiwa si penulis, tapi kalau bisa saya cerita sedikit, saya akhirnya menyadari bahwa kepala saya ini sudah seperti “mediator” dimana setiap cerita yang saya dengar bisa mengendap dan mempengaruhi pikiranku dan perasaanku, sehingga alhasil semua itu menyatu dan muncullah puisi.

“Puisimu makin mantab, Bangwin”, ucap mas Yo (Johannes Soegianto), setelah ia membaca puisi saya yang berjudul Timba Berisi Rindu. Mas Yo ini adalah penyair indie yang baru saja merilis kumpulan puisinya yang bertajuk “Di Lengkung Alis Matamu”. Saya hanya tersenyum dan berterima kasih pada semua puisi-puisi karya teman-teman saya yang secara tidak langsung mendidik, mengarahkan dan membekali saya dengan dunia puisi lebih lanjut

Kegamangan yang dulu timbul makin sirna dan mudah-mudahan saya bisa tetap berekspresi dalam bentuk puisi. Silahkan kunjungi PaparanKata yang jadi tempat untuk mengumpulkan puisi-puisi saya, dan jangan lupa tinggalkan comment, karena dari comment tersebut saya makin bisa mengembangkan ke arah yang lebih jauh.

The Revolution In Radio

Pagi ini, saya mulai membersihkan mailbox yang ada sekitar 4000 lebih email yang memang sudah seharusnya disortir untuk dipilih yang mana yang harus dibuang-buangin dan disimpan. Dan disela-sela proses pembersihan tersebut saya menemukan satu email yang sempat saya posting di beberapa milis, termasuk milis Musik_Indonesia juga, yaitu berisi sebuah link yang menuju ke artikel dari Time.Com, berjudul The Revolution in Radio. Artikel yang dibuat oleh Daren Fonda untuk Time.Com ini sangat lah menarik karena disitu dipaparkan dengan contoh kasus sebuah radio internet yang bernama Radio Paradise yang dikelola oleh mantan penyiar radio FM di California. Untuk selanjutnya silahkan ikuti artikel tersebut dibawah ini yang sengaja saya copy-paste kan diblog ini, supaya tidak merepotkan untuk pindah-pindah situs lagi untuk membacanya. Silahkan….

The Revolution In Radio
Online and satellite stations are finally starting to chip away at the dominance of the AM/FM dial
By DAREN FONDA

Bill and Rebecca Goldsmith are making a living from an idea that would probably get you laughed out of business school: running an Internet radio station commercial free. From their home in Paradise, Calif., in the foothills of the Sierra Nevada, they operate Radioparadise.com, a format-busting station that spins a tasteful mix of music ranging from the Beatles to Norah Jones to the Strokes. Fewer than 5,000 listeners tune in during peak times, but fans like it so much, they sent the couple $120,000 in contributions last year, covering the cost of bandwidth, song royalties and other expenses and leaving enough to support a “comfortable lifestyle,” says Bill Goldsmith, who quit a 30-year career in FM radio to run and DJ his homegrown version.

If you can’t bear another spin of Britney Spears, you’re one of the reasons that stations like Radioparadise are beginning to prosper and investors are again flocking to another alternative to the AM/FM dial: satellite radio. After years of unmet promise, online stations, along with satellite offerings like Sirius and XM Satellite Radio, are building audiences even as regular radio struggles through a decade-long slump (time spent listening is down 14% since 1994, according to the ratings firm Arbitron). Critics say industry consolidation has turned AM/FM stations into McRadio: nationally uniform, repetitive and clogged more than ever with ads and promos. But scores of high-quality alternatives are now competing for your ears (and dollars).

Just a few years ago, online radio heads were mainly tech geeks willing to put up with patchy, low-quality sound. These days about 19 million people listen to online radio at least once a week, up from 7 million in 2000, according to Arbitron. Online listenership is growing at an average 43% a year as more people get broadband connections at home and tune in for content that’s unavailable or in short supply on commercial stations, from blues to folk to Al Franken’s new liberal Air America network, which is broadcast in just a few markets on the AM/FM dial but was streamed 2 million times in its first week, according to its exclusive webcaster, RealNetworks. “People are fed up with terrestrial radio,” says Dave Goldberg, who oversees Yahoo’s music site and radio network, Launchcast, which draws 1 million listeners a week.

For now, it’s the satellite guys, together claiming around 2 million subscribers, who are drawing Wall Street’s attention. Though their stock prices had plummeted over concerns that they might run out of cash, their shares have soared in the past year. XM is up 379%; Sirius, 491%. Analyst April Horace of Janco Partners in Denver predicts that within five years 16 million Americans will be listening to satellite radio. She says the market would explode if a popular shock jock like Howard Stern were to defect with his 15 million listeners, a prospect that looked more likely last week after six traditional stations dropped his show following an FCC proposal to fine their corporate parent, Clear Channel Communications, $495,000 for airing his “indecent” content.

Satellite broadcasters use a pay-radio model, beaming dozens of channels coast to coast commercial free, with original programming such as comedy and kids’ shows. Financially backed in part by automakers, the satellite firms charge between $10 and $13 a month, mainly targeting car-radio users. Increasingly, though, listeners are buying portable tuners for their homes. To neutralize a key AM/FM advantage, both satellite broadcasters have started to provide traffic and weather updates in select markets.

So far, digital radio’s growth isn’t hurting big radio empires such as Clear Channel. With 1,213 stations and roughly a 30% ratings share in markets such as Phoenix, Ariz., and Milwaukee, Wis., Clear Channel had a record 2003: revenues of $8.9 billion and a net income of $1.1 billion. But listeners are clearly spending less time with terrestrial radio. One cause may simply be more media competition, from DVDs to video games to an expanding universe of digital TV. But critics of the radio industry say consolidation is partly to blame too. They claim Clear Channel and other big groups have ruined the airwaves by homogenizing song lists, politicizing the dial with conservative talk and sucking out local flavor with voice-tracking technology, which enables DJs to sound like local talent even if they’re a thousand miles away. Clear Channel contends that its cost-cutting measures have saved hundreds of stations from bankruptcy and that it’s the programming’s popularity, reflected in ratings, that ultimately drives the business.

Nonetheless, teenagers and young adults are increasingly going online to find new music (not just file-sharing networks), particularly alternative content that rarely gets airplay on the commercial FM dial. About 13% of Americans ages 12 to 24 now listen to online radio on a weekly basis, up from 6% of that age group in 2001, according to Edison Media Research/Arbitron. With 185 stations, AOL’s radio network, which, like TIME, is part of Time Warner, draws a weekly listenership of 1.5 million (by that measure, Arbitron notes, it’s the nation’s largest online network). Advertising remains tiny, but that may change. Ronning Lipset, an upstart Internet-radio ad firm in New York City, recently started packaging AOL, Live365.com, MSN and Yahoo into a kind of national network, which has a combined audience of at least 250,000 listeners in a quarter hour, the minimum needed to appeal to national-media planners. The firm says the networks will start running audio spots from national advertisers in May.

For now the AM/FM industry doesn’t seem too concerned. Arbitron estimates that 228 million Americans ages 12 and up still listen to broadcast radio weekly, and radio remains the top broadcast medium after TV for advertisers who want to reach a mass market. Radio ad sales in Arbitron markets are forecast to rise 5.5% this year, to $14 billion, according to BIA Financial Network, a media consultancy in Chantilly, Va. Yet as more consumers tune to stations like Radioparadise, those numbers could slip. Goldsmith’s thoughtful playlists are organized by musical theme, moving from, say, a bluesy Tracy Chapman tune to a Latin-blues Carlos Santana track to a rock-blues number by the Hellecasters. He heeds listener feedback and says the only thing he really cares about is “playing good music,” regardless of whether it’s a hot single being pitched by a promoter or a classic. That’s why his fans are pulling out their wallets to support him.


User Online