Tag Archive for 'puisi'

ProgPoetry

Apa jadinya jika sekelompok penulis puisi (saya menghindari penyebutan “penyair” karena kok rasanya berat dan jauh diatas banget, hehehe) bersama-sama menginterpretasikan lagu-lagu dalam genre tertentu ke bentuk puisi? hasilnya menurut saya adalah sebuah karya yang dahsyat (aneh atau nyeleneh). Coba berkunjung ke ProgPoetry di mana sejumlah penulis puisi yang juga menggemari musik progresif berkumpul dan mengumpulkan karya-karya puisi mereka yang berbentuk interpretasi terhadap musik-musik progresif yang mereka dengarkan. Bukan itu saja, mereka pun mengundang penulis-penulis puisi lainnya untuk bergabung. Bagaimana menurut anda?

Perhelatan Puisi dalam Diri

Tanpa disadari perhelatan saya dengan ekspresi tulisan yang dinamakan puisi makin intens. Dari yang tadinya hanya merupakan sarana pelepas pikiran, yang dalam istilah saya menyebutnya dengan “keran”….hehehe, mulai berubah menjadi semacam ekspresi yang dengan sendirinya muncul dikepala.

Saya ingat dijaman dulu saya pernah minta diajari menulis kepada rekan kerja saya dahulu yang sekarang kerja di majalah Tempo, Akmal Nasery Basral. Akmal sempat bertanya, “Masa sih elo gak bisa nulis Bang?”. Hehehe….sumpah menulis itu pekerjaan yang sangatlah sulit. Kepala sudah penuh dan siap ditumpahkan, begitu duduk didepan komputer dengan program word processing terbuka, langsung bingung. Begitu terus kejadiannya. Sampai akhirnya saya menyerah. Ini kejadiannya di medio 2001-an.

Cukup lama saya melupakan keinginan saya untuk menulis, sampai akhirnya disekitar pertengahan tahun 2006, saya diajak bergabung oleh Akmal ke sebuah milis yang bernama Apresiasi Sastra. Kebetulan Akmal menjadi salah seorang moderatornya. Dan tidak lama kemudian Akmal pun merilis novel pertamanya yang berjudul “Imperia”. Milis ini dipenuhi dengan penyair-penyair dan penulis-penulis sastra yang menurut saya kelasnya sudah eksis, dan ini membuat saya senang karena artinya makin banyak pula sumber-sumber pencipta sastra yang bisa saya jadikan patokan untuk belajar.

Pertemuan saya dengan milis pecinta puisi, Bunga Matahari (Buma) diawali dengan pertemuan saya di internet dengan Inez Dikara, seseorang teman lama yang kebetulan suaminya adalah kakak kelas saya di SMA 6, Jakarta. Inez ini lah yang mengajak saya ikutan milis Buma. Kredo yang dimunculkan di milis ini, yaitu “Semua bisa berpuisi” sangat membantu anggotanya untuk berekspresi tanpa takut-takut. Kesan bahwa puisi itu hanya bisa dihasilkan oleh seseorang yang sudah menyandang julukan penyair langsung pudar, karena ya ternyata memang tidak….hehehe. Dan mulailah saya memposting puisi-puisi saya yang pertama di kedua milis ini.

Penumpahan puisi itu terus berlangsung sampai akhirnya muncul kegamangan yang sempat saya tanyakan ke teman2 di milis sastra yang saya ikuti (Apsas & Buma). Muncul pertanyaan-pertanyaan yang  buat saya adalah dasar bagi kita untuk menulis dan mengklaim tulisan kita sebagai sebuah puisi, walaupun bila kita sudah mendapatkannya keharusan tersebut tidaklah menjadi esensial lagi, karena urusan selanjutnya adalah melepaskan ekspresi kita kedalam bentuk yang jauh lebih personal dan lebih menonjolkan personality kita sebagai identitas. “Sepertinya kau sudah menemukan ‘your alley’, Bang”, begitu kata Pakcik Ahmad, setelah beliau membaca dua puisiku yang saya buat dalam waktu berdekatan ( “Ufuk Yang Merunduk” & “Percakapan Antara Ayah & Anak” ). Pakcik Ahmad ini adalah salah seorang penyair yang puisi-puisinya banyak saya simak. Well, mungkin bagi orang luar bisa dengan mudah melihat ciri-ciri pada karya puisi seseorang ya, tapi saya tetap masih merasa gamang, sampai akhirnya saya memutuskan untuk menutup kegamangan tersebut dengan terus mendokumentasikan ekspresi-ekspresi yang muncul dikepala dalam bentuk puisi. Puisiku yang berjudul “Ufuk Yang Merunduk” pun banyak membuat teman-teman bertanya-tanya, ada apa dengan Bangwin? Mengapa puisi tersebut begitu gloomy? Apa yang terjadi dengannya? Banyak yang menganggap bahwa puisi itu adalah refleksi dari dalam jiwa si penulis, tapi kalau bisa saya cerita sedikit, saya akhirnya menyadari bahwa kepala saya ini sudah seperti “mediator” dimana setiap cerita yang saya dengar bisa mengendap dan mempengaruhi pikiranku dan perasaanku, sehingga alhasil semua itu menyatu dan muncullah puisi.

“Puisimu makin mantab, Bangwin”, ucap mas Yo (Johannes Soegianto), setelah ia membaca puisi saya yang berjudul Timba Berisi Rindu. Mas Yo ini adalah penyair indie yang baru saja merilis kumpulan puisinya yang bertajuk “Di Lengkung Alis Matamu”. Saya hanya tersenyum dan berterima kasih pada semua puisi-puisi karya teman-teman saya yang secara tidak langsung mendidik, mengarahkan dan membekali saya dengan dunia puisi lebih lanjut

Kegamangan yang dulu timbul makin sirna dan mudah-mudahan saya bisa tetap berekspresi dalam bentuk puisi. Silahkan kunjungi PaparanKata yang jadi tempat untuk mengumpulkan puisi-puisi saya, dan jangan lupa tinggalkan comment, karena dari comment tersebut saya makin bisa mengembangkan ke arah yang lebih jauh.


User Online